If you want to understand today, you have to search yesterday -Pearl Buck- Tidak banyak warga Bekasi yang mengetahui sejarah kotanya. Bahkan jika tidak terdapat slogan di beberapa tempat umum, mereka juga tidak tahu jika Kota Bekasi adalah Kota Patriot. Kota Bekasi mempunyai sejarah yang cukup heroik. Ketika Belanda menguasai Indonesia, Bekasi masih merupakan Kewedanan (district) termasuk Regenschap (kabupaten) Meester Cornelis. Pada saat Jepang datang dan melaksanakan japanisasi, nama Regesshap Meester Cornelis berubah menjadi KEN Jatinegara. Berdasarkan UU No. 14 tahun 1950, terbentuklah Kabupaten Bekasi dengan wilayah terdiri dari 4 kewedanan, 13 kecamatan (termasuk Kecamatan Cibarusah) dan 95 desa. Angka-angka tersebut secara simbolis diungkapkan dalam lambang Kabupaten Bekasi dengan motto "SWANTANTRA WIBAWA MUKTI". Pada 1960, kantor Kabupaten Bekasi pindah dari Jatinegara ke Jl. Juanda Bekasi. Dua puluh dua tahun kemudian, perkantoran Pemda Bekasi dipindahkan ke Jl. Ahmad Yani. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 1981, terjadilah pemekaran kecamatan yaitu Kecamatan Bekasi Timur, Bekasi Selatan, Bekasi Barat dan Bekasi Utara. Sebagai daerah yang tidak jauh dari ibukota Jakarta, Bekasi juga mempunyai peran yang cukup penting dalam perjuangan melawan penjajah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa monumen dan tempat bersejarah, diantaranya: 1. Tugu Perjuangan Bekasi Tepat di samping jembatan Kali Bekasi, di Jalan Djuanda, terdapat Tugu Perjuangan Bekasi yang merupakan simbol perjuangan dan perdamaian. Pada tanggal 18 Oktober 1945, tentara Republik Indonesia yang ada di Bekasi mencegat tentara Jepang yang sedang melintas di Bekasi dengan kereta api menuju Bandar Udara Kali Jati Subang. Terjadilah pertempuran dahysat yang mengakibatkan 90 tentara Jepang tewas. Mayat mereka dihayutkan ke Kali Bekasi. Hingga saat ini peristiwa tersebut masih dikenang oleh warga Jepang dengan melakukan ritual tabur bunga. 2. Gedung Juang 45 Dahulu lebih dikenal dengan sebutan gedung tinggi. Terletak di Jalan Sultan Hasanudin, tidak jauh dari pasar Tambun, gedung yang beraksitektur neoklasik ini sempat dijadikan sebagai pertahanan di front pertahanan Bekasi-Jakarta. Beberapa perundingan dan pertukaran tawanan perang juga dilakukan di sini. Meski pernah dikuasai oleh Belanda/NICA hingga 1949, namun berkat perjuangan dari pejuang Bekasi gedung ini berhasil direbut kembali setahun kemudian. 3. Monumen Tonggak Bekasi Terletak di Jalan Veteran di depan komplek Kodim 0507, monumen ini berbentuk tugu segi lima dengan tinggi 5.8 meter. Ditempat ini pernah terjadi rapat akbar yang diikuti oleh 40,000 warga Bekasi pada 17 Januari 1950. K.H Noer Ali yang memimpin rapat tersebut menegaskan bahwa rakyat Bekasi akan tetap setia kepada pemerintahan Republik Indonesia. Kondisi monumen ini cukup terawat, hanya tidak ada petujuk apapun di lokasi yang menceritakan latar belakang didirikannya monumen tersebut. 4. Monumen Tugu Terletak persis dipertigaan Jalan Agus Salim dan dikenal deng an Kampung Tugu. Bentuknya segi empat dengan tinggi 210 cm. Puncaknya atau yang biasa disebut kepala tugu mempunyai tinggi sekitar 75 cm. Puncak Tugu dilengkapi dengan pecahan peluru, mortar, granat tangan, sepucuk pistol genggam dan didalamnya konon terdapat nama-nama pejuang.Begitu banyak andil yang dilakukan oleh para pejuang Bekasi tempo dulu. Sangat disayangkan jika tidak banyak orang yang mengetahui bahkan cenderung mengabaikan tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah tinggi itu. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melestarikan bangunan bersejarah di Bekasi antara lain:1. Membuat study tour atau kunjungan wisata Ada baiknya jika sekolah atau universitas di Bekasi mengadakan study tour ke tempat-tempat bersejarah. Merupakan hal wajib bagi generasi muda untuk mengetahui sejarah tempat tinggalnya. Tentu saja beberapa penjelasan dari ahli sejarah diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Lomba menulis atau fotografi tentang bangunan bersejarah bisa dijadikan follow up dari study tour ini. Penghargaan bagi para pemenang dapat menjadi motivasi bagi mereka untuk ikut melestarikan tempat bersejarah baik melalui tulisan maupun foto.
2. Pemasangan banner atau baliho tentang tempat bersejarah di lokasi strategis. Hal ini diperlukan agar warga Bekasi dan pendatang mengetahui bahwa ternyata di Bekasi banyak terdapat tempat-tempat yang terukir dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Tentu saja untuk mendukung hal itu, sarana dan prasarana juga harus diperbaiki.
3. Inventarisasi tempat dan bangunan bersejarah di Bekasi. Ada baiknya mulai saat ini kita mulai membuat daftar tempat dan bangunan bersejarah di Bekasi, untuk kemudian dibuat situs/website khusus. Tentu ini akan mempermudah bagi siapa saja yang akan mencari info tentang tempat bersejarah di Bekasi.Semoga dengan kegiatan promosi dan kepedulian dari warga Bekasi akan mengembalikan citra Bekasi sebagi kota Patriot. Mari kita patriotkan kota Bekasi !!Sumber tulisankotabekasi.go.idbekasiku.blogspot.commycittyblogging.comFoto diambil dari sini Tulisan ini dibuat untuk memeriahkan lomba penulisan blog komunitas blogger Bekasi  | jadi yang ini wiek? tmp bekasi gak dmasukin, padahal d bulak kapal lho? gak k rengas dengklok juga? |
 | sedari lahir hingga sekarang sudah berusia sepermepat abad lebih, saya tinggal di kota Bekasi dan tidak mengetahui sejarah diatas.
terima kasih atas infonya, mbak :) |
 | di bekasi kan ada kelurahan medan satria, dan daerah bernama bintara. memang, pejuang-pejuang kita melakukan penghadangan terhadap tentara sekutu di sekitar bekasi. sampai diabadikan sama chairil anwar dalam sajaknya "krawang-bekasi".
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi. Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan Tapi adalah kepunyaanmu Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa, Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami Teruskan, teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat Berikan kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948) Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957
|
 | @ pak tiar: iya, yg ini ajah, abis binun, emang msh banyak yg kelewat deh kayaknya, risetnya kurang detail sih @ abe: sama2 abe, so kpn motret bekasi @ night ? gue udh beli tripod loch :p @ mas tian: yupz, nama beksasi diabadikan dlm puisinya chairil anwar, keren ya :) @mas wib: hahaha, udh laam ga denger kata tea :p |
 | wahhhh.... klo tripod mah gw ada, yang gak ada malah kameranya nih...
hahahaha... |
 | whoaaa...cocok jadi kandidat walikota Bekasi berikutnya nih... :)) |
 | kita sering melupakan sejarah atau tidak tahu karena tidak adanya informasi. zaman SMA 3 tahun bolak-balik lewatin tugu, tapi baru tau sekarang kalau itu bangunan bersejarah, kirain ada orang iseng aja bangun tugu disitu... |
| |